Sabtu, 21 Mei 2011

lebih asyik cerita masa kecil ni


Nah kita mau cerita ni sedikit banyaknya tentang diri pribadi dan unsur pendidikan di dalamnya.

Ni cerita masa kecil yang sebenarnya kenyataan yang saya alami di lingkungan keluarga dan sekolah yang sampai sekarang pendidikan ini selalu syukuri. Guru pendidik saya yang sampai sekarang dekat erat dengan saya adalah bapak. Bapak kandung saya adalah seorang guru bidang studi tarbiah yang sekarang mengajar di MAN 1 Takengon Aceh Tengah. Ketika saya masih berumuran tingkat kanak-kanak. Saya selalu di ajari ilmu agama oleh bapak saya, sampai-sampai saya lebih cepat membaca Al-Quran dari pada membaca Buku.  Ceritanya saya potong-potong aja ya.. pelajaran yang di ajarkan oleh bapak saya ketika saya masih kecil adalah:

  1. Al-Quran

Saya bisa membaca Al-Quran ini semasa saya kelas 2 MIN, kadang-kadang kawan bertanya kenapa saya lebih cepat membaca ayat-ayat dari pada membaca buku. Tu semua karena didikan bapak saya ini. Awal mulanya saya membaca Al-Quran ini berawal dari Zus Amma, atau sekarang orang lebih sering membaca IQRA. Dalam pengajarannya ada satu alat yang sampai sekarang ini alat itu bergantung di kamar bapak saya, yang terbuat dari bambu kecil dengan panjang kira-kira setengah meteran lah. Nah tu teman bapak saya yang sangat akrab sekali sewaktu mendidik kami anak-anaknya. Setiap malam kira-kira jam 20.00 wajib bagi kami untuk membacakan satu ayat pendek di depan dia kalau tidak bisa siap-siap aja temannya yang melayang ke telapak tangan. Behh rasaya waktu mau nangis ja karena sakitnya tapi kalau di piker-pikir ada untungnya juga

Zaman sekarang banyak kawan-kawan bahkan anak-anak yang tidak tau membaca al-quran kasian ya. Padahal itu adalah wahyu ALLAH yang di tuliskan dan tidak ada keraguan di dalamnya tapi kenapa mereka tidak mengamalkanya. Begitulah kehidupan sekarang ini biarpun kami didikannya keras tapi untungnya besar.

  1. Shalat

Nah ni satu lagi didikan yang sampai sekarang ga terlupakan setiap kami shalat di depan bapak kami harus meneriakkan doa shalat dari niat sampai salam sambil memperaktekannya, nah kalau salah tu teman bapak datang lagi dah bam di pantat atau di lutut. Beh bise pak gecik. Tapi untungnya banyak kami tau doa shalat tersebut. Ada sih cerita lucu di balik kisah ini begini ceritanya.
Semasa saya kelas 1 MIN ada satu pelajaran agama namanya FIQIH. Nah di sini banyak menjelaskan tentang tata cara shalat dan rukun-rukunnya, ada seorang guru kami namannya ibu Djamilah dia yang mengajar pelajaran ini. Materi yang kami pelajari saat itu adalah SHALAT. Nah dengan banyaknya cerita-cerita tiba-tiba guru ini memberikan pertanyaan pada sayat, seperti ini Ary shalat dzuhur berapa rakaat. Dengan lantam ku bilang aja dua, guru ini tekejut, dia Tanya lagi shalat ashar berapa saya jawab lagi dua. Marah-marah dia siapa yang ajar blalalalalalalal.
Kalian bingung kan kenapa saya bilang dua karena bapak saya ni setiap shalat harus berdiri di depannya dan membaca fatihah yang kencang shalatnya dua rakaat.dzuhur dua rakaat, ashar dua rakaat, magrib dua rakaat, isya dua rakaat. Gara-gara bapak saya selalu mengajari saya shalat dua rakaat. Jadi saya ga salah kalau saya bilang dua rakaat yakan orang masa kecil apa yang dapat itu lah, mana bisa menyaring.
  1. Bahasa Indonesia

Nah ni lagi satu bahasa yang semenjak saya kecil sampai saya besar tidak pernah di ajari. Selalu berbahasa Gayo. Kalau da orang ngomong bahasa Indonesia, saya balas aja bahasa gayo karena mang saya ga berani untuk berbahasa Indonesia. Didikab keluarga saya selalu berbahasa gayo. Jujur dari MIN sampai saya MAN saya takut berbahasa Indonesia. Bukan berarti saya ga mengerti cuman mang saya ga berani berbahasa Indonesia, ada ni satu cerita sewaktu di sekolah MAN kelas 3. pelajaran yang kami masuki saat itu adalah bahasa Indonesia, pelajarannya tentang antonym dan sinonim. Guru yang mengajar ini namanya ibu Zubaidah. Ketika beliau menjelaskan yang lain sangat serius mendengarkannya. Saya juga serius tapi ga serius kali karena mang saya malas. Nah tiba-tiba guru ini memanggil saya Ari ada yang ingin di tanyakan… saya tediam sejenak, ibu marah yoh napa ga ngomong. Dengan lantam ari bilang “ ara le si male kukunei bu cumen aku gere pane rum bahasa Indonesia” ( ada yang mau saya tanyakan akan tetapi saya ga bisa bahasa Indonesia) tiba-tiba kelas yang sepi jadi rame rupanya semuanya ngetawai ary wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw. Ibu tersenyum sambil menutup mulutnya tertawa malu. Saya diam aja orang mang saya ga ngerti ngapaen harus malu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar